Tahun baru? berkurang setahun lagi, kesempatan kita menjadi khalifah Allah di bumi-Nya.
Menghadapi tahun baru, biasanya ada kecamuk dalam hati; antara sesal dan syukur, penyesalan atas usaha yang kurang optimal dalam mengisi hari-hari di tahun yang berlalu, dan syukur atas kesempatan yang kembali diberikan Allah untuk memperbaiki diri di tahun baru.
Sudah selayaknya tahun baru kita jadikan ajang introspeksi dan evaluasi atas aktivitas kita selama setahun ke belakang dan mengatur strategi untuk mengisi hari-hari di tahun berikutnya, agar bisa lebih baik. Bukankah seorang muslim selalu dituntut untuk menjadikan harinya lebih baik dari kemarin dan esoknya lebih baik dari hari ini? Lebih baik? Lebih baik; lebih banyak memberikan manfa’at pada orang lain, seperti sabda Rasulullah: “Khaer el nas anfa’uhum li el nas” (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain).
Bicara tahun Baru Hijriyah, pasti jadi terkenang akan peristiwa hijrahnya Rasulullah ke Madinah, meninggalkan tanah kelahiran tercinta, Mekkah.
Kisah keberanian Ali bin Abi Thalib menggantikan Rasulullah tidur di dipannya, sementara para jagoan Quraisy –Abu Jahal di antaranya– mengepung rumah Rasulullah untuk membunuhnya. Ali siap menerima resiko untuk terbunuh menggantikan Rasulullah. Ali rela mengorbankan jiwanya untuk Rasulullah. Subhanallah! Namun sesuai janji Allah, Ali bin Abi Thalib selamat walau harus menghadapi keberangan kafir Quraisy yang merasa tertipu. Dan lagi-lagi, Ali membuktikan keberaniannya menghadapi musuh Allah, dengan tetap tutup mulut akan keberadaan Rasulullah walaupun dipaksa dengan berbagai cara.



